|
Diperlukan Breakthrough untuk Melakukan Perubahan Besar
 Direktur Pembinaan Administrasi PA, Hidayatullah MS (kiri) menerima hasil rumusan Raker dari Panitia Raker, Endra Jumhana, Kabag Ortala Ditjen Badilag.
Bandung | badilag.net (11/2) Diperlukan kekuatan besar untuk menembus dinding-dinding mitos anti perubahan. Perubahan besar harus dilakukan dengan kekuatan besar yang disebut breakthrough (terobosan). Breakthrough juga berarti menjebol dengan tenaga super kuat. Dan ini harus diawali oleh pemimpin karena mereka punya kekuasaan (the art of possibility) sementara anak buah hanya mempunyai scenario (the art of probability). Itulah yang ditegaskan oleh Biakman Irbansyah, MBA, Chief of Rumah Perubahan, ketika menyampaikan materi “Membangun Semangat Perubahan Berbasiskan Keselarasan Tim dan Organisasi” pada Rabu (10/2) sebelum sesi penutupan Raker Ditjen Badilag yang berlangsung sejak Senin (8/2) kemarin.
“Adalah tugas para agen perubahan di MA RI untuk membuat breakthrough tersebut untuk menjebol mitos anti perubahan. Jangan malah menjadi mitos itu sendiri,” tegas Irbansyah. “Breakthrough adalah keluar dari pusaran ‘tradisi’ atau ‘kebiasaan’ (habits) atau cara-cara yang sudah terbelenggu mental block. Breakthrough berbeda dengan ‘jalan pintas’ yang terkesan asal cepat dan menabrak rambu-rambu.” “Breakthrough adalah sebuah upaya penetrasi untuk membuat proses bekerja lebih baik,” kata Irbansyah. Kreativitas diperlukan untuk melakukan perubahan, perbaikan dan arah tujuan baru. Tanpa kreativitas, yang ada hanyalah pengulangan, rutinitas, dan hal yang membosankan. Untuk mencapai hal itu kita diharuskan merubah pola pikir dan bertindak. Biakman Irbansyah, konsultan strategi di berbagai BUMN dan perusahaan swasta ini yakin Mahkamah Agung dan Badilag mampu dan harus melakukan perubahan karena MA adalah merupakan asset stratejik bangsa. 
Biakman Irbansyah, MBA (memakai vest) berpose bersama sebagian peserta Raker.
Penutupan Raker Ditjen Badilag 2010 Setelah berhasil menyepakati Indikator Kinerja Utama dan Penetapan Kinerja untuk tahun 2010, Rapat Kerja Ditjen Badilag 2010 akhirnya secara resmi ditutup dengan menelurkan beberapa rekomendasi kebijakan internal yang harus dijalankan Ditjen Badilag. Direktur Administrasi Peradilan Agama, Hidayatullah MS, yang menutup Raker ini dalam arahannya menekankan pentingnya perubahan dan konsistensi kinerja seluruh jajaran. “Mari kita selalu buat terobosan baru. Tingkatkan kreativitas kita dengan menyelaraskannya dengan rambu peraturan yang ada. Jangan pernah berhenti membuat inovasi baru. Semoga kinerja Ditjen Badilag pada tahun ini semakin lebih baik dari tahun kemarin,” kata Direktur sebelum akhirnya mengetuk palu penutupan Raker. |